Yayang Mustika

Yayang  Mustika
Karyawati, dan IRT

Minggu, 06 September 2026

Krakatau Batuk. Waspada!

 Mengenali Gunung Krakatau


Siapa yang belum tau gunung krakatau? 

sini sinii aku kenalin

Gunung krakatau adalah gunung berapi aktif yang terletak di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. dulu jaman SD aku taunya Krakatau itu logo di uang Rp.100, wheehehehe

ada yang sama ???


Ini diaa Uang saku jaman sd bisa dapet 4 jenis jajanan.


Krakatau ini memiliki anak, anaknya mucul karna ada letusan hebat pada tahun 1927, pulau keempat, Anak Krakatau, muncul dari kaldera yang terbentuk pada tahun 1883. Aktivitas erupsi baru terjadi sejak akhir abad ke-20, dengan keruntuhan besar yang menyebabkan tsunami Selat Sunda 2018. Sebuah kerucut bara baru kemudian tumbuh dari cekungan bekas runtuhan akibat erupsi pada dasawarsa 2020-an


yukkk simak apa kata wiki


Salah satu penyebutan paling awal nama Krakatau terdapat dalam teks bahasa Sunda Kuno Bujangga Manik, yang kemungkinan ditulis di Jawa bagian barat pada akhir abad ke-15. Dalam teks tersebut, Krakatau disebut sebagai "pulau Rakata, sebuah gunung di tengah laut" (pulo Rakata gunung ti tengah sagara, Meskipun sumber-sumber Eropa sebelumnya telah memuat gambaran tentang sebuah pulau di Selat Sunda dengan "gunung yang menjulang runcing", penyebutan Krakatau dengan namanya di dunia Barat pertama kali muncul pada sebuah peta karya Lucas Janszoon Waghenaer pada tahun 1611, yang menamai pulau tersebut "Pulo Carcata" (pulo adalah kata dalam bahasa Sunda yang berarti "pulau"). Sekitar dua lusin variasi nama tersebut telah ditemukan, termasuk Crackatouw, Cracatoa, dan Krakatao (dalam ejaan lama yang berbasis bahasa Portugis). Kemunculan pertama yang diketahui dari ejaan Krakatau dibuat oleh Wouter Schouten, yang pada Oktober 1658 melewati "pulau tinggi Krakatau yang ditutupi pepohonan".

Asal-usul nama Krakatau tidak diketahui secara pasti. Teori-teori utama adalah:

Berasal dari bahasa Sanskerta karka atau karkaṭa atau karkaṭaka, yang berarti "lobster" atau "kepiting". Bentuk singkat rakaṭa juga berarti "kepiting" dalam bahasa Jawa Kuno. Fakta bahwa penyebutan kata tersebut yang paling awal tercatat sangat mirip dengan pelafalan kata-kata untuk kepiting tersebut (rakata dalam Bujangga Manik dan carcata pada peta Waghenaer) menjadikan etimologi Sanskerta ini sebagai asal-usul kata yang paling mungkin.

Onomatope, yang menirukan suara yang dihasilkan oleh burung kakatua (Kakatoes) yang dahulu menghuni pulau tersebut. Namun, Van den Berg menunjukkan bahwa burung-burung tersebut hanya ditemukan di "bagian timur kepulauan" (yang berarti Kepulauan Nusa Tenggara, di sebelah timur Jawa, di sisi lain Garis Wallace).

Kata bahasa Melayu yang paling mirip adalah kelakatu, yang berarti "semut bersayap putih". Furneaux menunjukkan bahwa pada peta-peta sebelum 1883, Krakatau memang agak menyerupai seekor semut jika dilihat dari atas, dengan Lang dan Verlaten berada di kedua sisinya seperti sayap.

Van den Berg (1884) mengisahkan bahwa Krakatau merupakan hasil kesalahan linguistik. Menurut legenda, kapten sebuah kapal yang berkunjung menanyakan nama pulau tersebut kepada seorang penduduk setempat, dan orang itu menjawab, "Kaga tau" (Aku enggak tahu)—sebuah ungkapan slang Jakarta/Betawi yang berarti "Saya tidak tahu". Kisah ini pada umumnya tidak dianggap dapat dipercaya; kisah tersebut sangat mirip dengan mitos linguistik lain mengenai asal-usul kata kanguru dan nama Semenanjung Yucatán.

Institusi Smithsonian melalui Global Volcanism Program-nya menyebut nama Indonesia, Krakatau, sebagai nama yang benar, tetapi mengatakan bahwa Krakatoa juga sering digunakan dalam bahasa Inggris.

Pembahasan mengenai etimologi masih memerlukan rujukan yang lebih memadai. Oleh karena itu, jika diperlukan, silakan menambahkan referensi lain sebagai bahan pendukung.

         2026
Tahun Ini di bulan september infonya anak krakatau mengeluarkan abu vulkanik, sala satu daerah yg kena adalah jakarta.

Jadi untuk warga jakarta mari kita menerapkan 5 M
  • Memakai Masker
  • Menutup Pintu jendela dan sumber air
  • Membatasi aktifitas di luar ruangan
  • Membersihkan abu di basuh terlebih dahulu 
  • Memantau Dari kanal resmi info mengenai anak krakatau yg sedang tidak baik baik.

#Jagajakarta 


Minggu, 07 Juni 2026

Habis Gelap Terbitlah Terang: Cahaya Perjuangan Perempuan

 

Habis Gelap Terbitlah Terang: Cahaya Perjuangan Perempuan

Babak Pertama: Senandung Sunyi dari Jepara


Pada 21 April 1879, sebuah tangis bayi memecah keheningan di tanah Jepara. Lahir sebagai seorang gadis bangsawan, ia diberi nama Raden Ajeng Kartini. Namun, dinding pingitan dan jeruji tradisi kala itu teramat tebal. Pada masa di mana hak pendidikan adalah kemewahan yang tabu bagi kaum hawa, Kartini menolak tunduk pada nasib. Dari balik jendela kamarnya, ia merajut mimpi besar tentang kesetaraan, tentang hak perempuan untuk membaca dunia, dan tentang pentingnya pendidikan bagi ibu dari peradaban.

Melalui lembar-lembar surat yang ia kirimkan seberang lautan, asa itu tidak pernah padam. Surat-surat penuh air mata dan harapan itu kelak abadi dalam sebuah mahakarya: "Habis Gelap Terbitlah Terang". Meski raganya pamit pada usia yang teramat muda—25 tahun—api pemikirannya menolak mati. Hingga detik ini, setiap tanggal 21 April, kita tidak hanya mengenang namanya, tetapi merayakan kebebasan yang hari ini kita hirup.

Babak Kedua: Akar Keteguhan Sejak Zaman Kenabian

Jauh sebelum Kartini menyuarakan asanya, sejarah Islam telah menuliskan tinta emas tentang kemuliaan emansipasi. Kita mengenal Sayyidah Khadijah Al-Kubra, istri Rasulullah ﷺ, seorang businesswoman agung yang menjadi pilar terkuat di masa-masa awal Islam.

Kita juga berguru pada keteguhan Ibunda Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS. Bayangkan kesunyian padang pasir purba saat ia berlari kecil, bolak-balik sebanyak tujuh kali antara Bukit Shafa dan Marwah, demi setetes air untuk bayinya, Nabi Ismail AS. Sebuah perjuangan yang lahir dari cinta, keikhlasan, dan tawakal tingkat tinggi yang begitu agung, hingga Allah mengabadikan langkah kakinya menjadi ibadah Sa'i yang wajib dijalankan oleh jutaan umat manusia saat Haji dan Umrah hingga akhir zaman.

Babak Ketiga: Renungan di Tahun 2026

Waktu terus bergulir hingga kita tiba di tahun 2026. Hari ini, batas-batas itu seolah telah runtuh. Perempuan-perempuan hebat ada di mana-mana. Mereka memimpin perusahaan, menjadi guru yang mencerdaskan bangsa, berjaga sebagai polisi, bahkan tegap melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dulunya hanya milik laki-laki. Saat keadaan mendesak, seorang perempuan bahkan mampu berdiri kokoh memikul dwi-peran: menjadi ibu sekaligus menjadi 'ayah' bagi anak-anaknya.

Namun, di tengah segala kehebatan dan kesetaraan ini, sebuah tanya menggelitik sanubari kita:

Jika perempuan bisa melakukan hampir segalanya, apakah seorang laki-laki, dengan segala kekuatannya, bisa menggantikan peran seorang ibu?

Jawabannya tersimpan dalam fitrah yang takkan pernah tertukar. Laki-laki bisa memberikan nafkah, memberikan perlindungan, dan menjadi pelindung yang hebat. Namun, mereka tidak akan pernah memiliki rahim yang mengandung dengan payah, dekapan hangat yang meredakan tangis batin, atau insting teduh yang menyembuhkan luka dunia.

Emansipasi bukan tentang siapa yang menggantikan siapa, melainkan tentang bagaimana kita saling menghormati ruang, berbagi peran, dan menghargai bahwa di balik kehebatan dunia hari ini, ada doa dan pengorbanan seorang ibu yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh apa pun.